Kamis, 28 Agustus 2008

Ujian Sisipan : Matakuliah E-Business

Soal Tipe A

  1. Definisi e-business adalah penggunaan internet untuk berhubungan dengan konsumen, rekan bisnis, dan supplier. Penggunaan internet menyebabkan proses bisnis menjadi lebih efisien. Dalam penggunaan e-business, perusahaan perlu untuk membuka data pada sistem informasi mereka agar perusahaan dapat berbagi informasi dengan konsumen, rekan bisnis, dan supplier dan dapat bertransaksi secara elektronik dengan mereka memanfaatkan internet.Beda e-business dengan e-commerce adalah ecommerce hanya berupa transaksi secara elektronik di internet sedangkan e-business termasuk juga pertukaran informasi secara online misalnya sebuah perusahaan manufaktur membagi informasi persediaan bahan baku ke supplier, sebuah lembaga keuangan membagi informasi tentang perbankan, credit card, dll dengan konsumen mereka, dan sebagainya.
  2. portal merupakan gerbang utama yang menyediakan informasi. dengan menggunakan portal produktifitas dapat meningkatkan karena berbagai kemudahan didapat dari menggunakan portal. sehingga dari segi waktu efektifitas dan efisiensi akan tercipta sehhingga dapatt meningkatkan produktifitas.
  3. pervasive artinya “meresap“. "Pervasive computing adalah suatu lingkungan dimana sejumlah teknologi (terutama teknologi komputer) digunakan dan menyatu di dalam objek dan aktivitas manusia sehari-hari, sehingga kehadirannya tidak dirasakan sebagai sesuatu yang khusus."

Soal Tipe B

  1. layanan yang ditawarkan pada www.epinions.com adalah berupa informasi mengenai barang dan jasa sehingga konsumen dapat melakukan proses pembelian. Sedangkan pada craiglist.org, berbagai informasi disajikan. Mulai dari layanan kontak jodoh, property,otomotif, dan lain-lain.
  2. value proposition dari setiap web adalah berupa kemudahan dan kelengkapan informasi yang disajikan.
  3. perusahaan mendapatkan keuntungan melalui informasi produk yang dipasang di site ini. Sehingga semakin banyak informasi yang dipasang di site ini, semakin banyak keuntungan yang didapat.
  4. yang berbeda dari kedua site tersebut adalah dilihat dari segi tampilan. Dimana epinions.com menampilkan halaman yang menarik dan atraktif. Sedangkan pada craiglist.org hanya terdiri dari berbagai list tanpa ada gambar ataupun warna yang dapat menarik perhatian pengguna internet.
  5. pengertian :
    1. internet - Sejumlah besar network yang membentuk jaringan inter-koneksi (Inter-connected network) yang terhubung melalui protokol TCP/IP. Internet merupakan kelanjutan dari ARPANet dan kemungkinan merupakan jaringan WAN yang terbesar yang ada saat ini.
    2. Alamat IP : yaitu sistem pengalamatan di network yang direpresentasikan dengan sederetan angka berupa kombinasi 4 deret bilangan antara 0 s/d 255 yang masing-masing dipisahkan oleh tanda titik (.), mulai dari 0.0.0.1 hingga 255.255.255.255.
    3. Domain, nama domain : Merupakan layanan di Internet untuk jaringan yang menggunakan TCP/IP. Layanan ini digunakan untuk mengidentifikasi sebuah komputer dengan nama bukan dengan menggunakan alamat IP (IP address). Singkatnya DNS melakukan konversi dari nama ke angka. DNS dilakukan secara desentralisasi, dimana setiap daerah atau tingkat organisasi memiliki domain sendiri. Masing-masing memberikan servis DNS untuk domain yang dikelola.
    4. Web Hosting: Layanan untuk penempatan halaman-halaman web di internet di mesin komputer yang selalu terhubung dengan internet, umumnya layanan ini disediakan oleh penyelenggara jasa internet atau Internet Presence Provider.

Perbedaan B2B dan B2C

Perbedaan B2B dan B2C meliputi banyak aspek. Jika produk dalam B2C cenderung standar, dalam B2B biasanya dilakukan customization sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Hal ini yang membuat hubungan antara pembeli dan penjual dalam B2C biasanya tidak personal, sedangkan dalam B2B, terjalin hubungan personal yang lebih rapat.

Jika dalam B2C pengelolaan pemasarannya disentralisasi oleh divisi pemasaran/penjualan, dalam B2B yang terjadi adalah integrasi dari banyak divisi di perusahaan yang terlibat dalam proses--selain pemasaran dan penjualan--yaitu R&D, produksi, servis dan keuangan. Pengambilan keputusan di B2B juga bukan merupakan keputusan individu seperti yang terjadi di B2C, melainkan berkelompok, karena produk/jasa tidak digunakan untuk kepentingan pribadi, tetapi kepentingan perusahaan.

Tantangan terberat dalam proses branding/positioning B2B adalah pada saat memilih posisi apa yang tepat baginya. Karena yang dihadapi adalah situasi multi-dimensi, di mana keputusan untuk memilih sebuah produk/servis adalah gabungan dari berbagai kepentingan, di mana benang merah yang bisa menghubungkan rangkaian value tersebut.

Positioning harus mencakup hal-hal mendasar yang kritikal bagi semua. Untuk mengerti sepenuhnya sebuah organization buying process, dibutuhkan studi/riset ethnography yang bisa menjelaskan peran dan interaksi antaraktor penting.

Perbedaan yang mencolok antara B2B dan B2C adalah dari segi budget komunikasi. Dalam situasi pengembangan brand B2B, terbatasnya bujet komunikasi harus disikapi dengan peningkatan efektivitas komunikasi media, misalnya dengan fokus pada media yang lebih segmented dan juga keikutsertaan dalam berbagai acara/pameran. Memanfaatkan media Internet, misalnya dengan mempunyai website corporate yang bersifat interaktif dan komprehensif.

Pembinaan reputasi brand B2B secara umum tentu harus dibarengi dengan performance yang prima. Benefit umum seperti kredibilitas, dapat dipercaya, memberikan kemudahan dalam berbisnis, harus dibina dan dipertahankan terus. Benefit yang bersifat khusus atau unik, seperti keahlian yang khusus di bidangnya, dukungan teknologi terbaru bisa menjadi sebuah differentiator yang akan membedakan perusahaan B2B ini dari sederet pemain pesaing lainnya.

Benefit yang bersifat intangible memang lebih mahal untuk dikembangkan, tetapi apabila hal ini sudah dipahami dan diterima oleh target audiensinya, akan membentuk sustainable competitive advantage yang sulit ditiru.

Kekuatan sebuah brand B2B bisa dilihat pada saat proses pemilihan oleh prospek, di mana brand yang sudah punya makna positif dan unik, akan memberikan semacam jaminan tersendiri bagi aktor pengambil keputusan, karena kegagalan dalam memilih produk yang baik sangat mungkin akan memengaruhi karier mereka.

Persepsi stakeholders terhadap perusahaan, disadari atau tidak, terbentuk melalui sebuah proses. Pada dasarnya kita semua dihadapkan pada dua pilihan: memilih positioning sendiri atau stakeholders yang akan memosisikan bisnis kita.

Memilih sendiri berarti mempunyai kesempatan untuk mengidentifikasi posisi apa yang terbaik dan paling feasible untuk perusahaan. Sebaliknya, tidak banyak pilihan jika jurusnya hanya menunggu hingga stakeholders yang memosisikan. Bagaimana apabila persepsi berkembang ke arah lain? Sangat tinggi risikonya!

Langkah awal yang perlu ditempuh perusahaan B2B yang ingin melakukan branding adalah mencari tahu terlebih dahulu, bermakna seperti apakah corporate brand Anda pada saat ini? Apakah sudah seperti yang dibayangkan? Jika belum, review kembali apa yang kurang dari performance perusahaan, lalu benahi. Proses branding/positioning secara paralel bisa dimulai pada saat pembenahan tersebut. Selamat menjalankan, semoga berhasil.

Senin, 25 Agustus 2008

faktor yang mempengaruhi prestasi kerja

Seseorang bekerja karena di dalam dirinya terdapat suatu kemampuan untuk bekerja (ability to work) dan adanya dorongan untuk bekerja (willingness to work). Masalah kemampuan bersumber dari diri sendiri, sedangkan masalah dorongan untuk bekerja dapat timbul dari hasil interaksi antara seseorang dengan lingkungan, terutama lingkungan kerja.
Pada dasarnya seseorang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup yang beraneka ragam. Menurut A. H. Maslow, manusia mempunyai lima kategori kebutuhan, yaitu :
1. Kebutuhan Fisiologis (Physiological needs)
Ini merupakan kebutuhan pokok yang kita miliki, misalnya kebutuhan akan makanan dan minuman serta tempat tinggal
2. Kebutuhan Rasa Aman (Safety and Security needs)
Apabila kebutuhan fisiologis telah terpenuhi maka akan timbul kebutuhan rasa aman, yaitu perlindungan dari marabahaya
3. Kebutuhan Sosial (Belonging and Social needs)
Merupakan kebutuhan akan berhubungan persahabatan, memberi dan menerima kasih sayang
4. Kebutuhan Ego (Esteem and Status needs)
Orang-orang memiliki kebutuhan yang konstan untuk lebih berhasil memperoleh pengetahuan lebih banyak dan pengalaman lebih besar. Tetapi seperti halnya yang lain kebutuhan ego hanya memotivasi perilaku apabila kebutuhan yang lebih rendah telah terpenuhi
5. Kebutuhan Perwujudan Diri (Self actualization and Fulfillment needs)
Kebutuhan ini merupakan tingkat yang tertinggi, jika kebutuhan seseorang terpenuhi maka akan timbul suatu motif dari diri orang yang bersangkutan untuk bekerja dan berprestasi seperti yang diharapkan.
Adapun menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2001 : 67), faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi kerja adalah :
1. Faktor Kemampuan
Kemampuan karyawan dengan ditunjang pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari, maka ia akan lebih mudah mencapai prestasi kerja yang diharapkan. Oleh karena itu, karyawan perlu ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan keahliannya
2. Faktor Motivasi
Motivasi terbentuk dari sikap seorang karyawan dalam menghadapi situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri karyawan yang terarah untuk mencapai tujuan perusahaan. Motivasi yang dimiliki oleh seorang karyawan harus timbul dari dalam diri sendiri selain dari lingkungan kerjanya.
Selain dengan mengetahui tentang kebutuhan karyawan, maka hal lain yang dapat membuat seseorang bekerja dan berprestasi sesuai dengan yang diharapkan adalah adanya dorongan seseorang untuk bekerja dan tanggung jawab dalam melaksanakan pekerjaannya.

2.4.3 Ukuran dan Standar Prestasi Kerja
Ditinjau dari faktor-faktor yang berperan terhadap prestasi kerja, menurut Edwin B. Flippo (1990 : 250) sebagai berikut :
1. Mutu Kerja
Mutu kerja dapat diukur berdasarkan ketepatan waktu seorang karyawan dapat menyelesaikan pekerjaannya, tingkat kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mernyelesaikan pekerjaan, tingkat ketelitian seseorang dalam menghasilkan hasil kerja yang akurat dan tingkat kerapihan seseorang dalam menghasilkan hasil kerja yang baik, meliputi ketepatan, keterampilan, ketelitian dan kerapihan
2. Kuantitas Kerja
Kuantitas kerja dapat diukur melalui tingkat kuantitas pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh seorang karyawan, dan kecepatan seorang karyawan dalam menyelesaikan pekerjaannya, meliputi keluaran tugas-tugas reguler dan kecepatan dalam menyelesaikan tugas-tugas ekstra atau mendesak
3. Ketangguhan
Ketangguhan dapat diukur melalui tingkat kemampuan karyawan dalam melaksanakan setiap pekerjaan yang diperintahkan atasannya, tingkat kebiasaan karyawan dalam menjaga keselamatan dirinya dalam bekerja dan tingkat inisiatif karyawan dalam menghasilkan ide-ide baru yang bermanfaat bagi pekerjaannya serta tingkat kehadiran karyawan dalam bekerja, meliputi mengikuti perintah, tingkat keselamatan yang baik, inisiatif, ketepatan waktu kehadiran
4. Sikap
Sikap karyawan dapat diukur melalui pandangannya terhadap pekerjaan yang dibebankan kepadanya, dan tingkat kemampuan karyawan dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan rekan sekerja dalam tim kerja juga menjalin kerjasama yang baik, meliputi pandangan dan perilaku terhadap perubahan pekerjaan dan teman sekerja termasuk kerjasama.

faktor yang mempengaruhi motivasi kerja pegawai

Apabila karyawan diperlakukan dengan adil, gaji mereka memadai dan kondisi kerja mereka baik, maka mereka condong akan mempunyai semangat, prestasi kerja dan moril yang tinggi.
Menurut Vernon A. Musselman dan John H. Jackson yang diterjemahkan oleh Heidjrachman Ranupandojo dan Suad Husnan (1991:214), indikasi adanya motivasi adalah sebagai berikut:
a. Tingkat pindah keperusahaan dari pegawai yang rendah
b. Sedikit keluhan atau ancaman mogok
c. Tingkat kepatuhan yang tinggi pada peraturan dan kebijaksanaan
d. Penghargaan pada kondisi dan familitas
e. Tingkat produksi yang tinggi dengan sedikit kemacetan kerja
f. Bukti-bukti kerjasama dari karyawan (Syarikat buruh).
Sikap atau hasil pelaksanaan yang berlawanan dengan motivasi kerja perusahaan akan berpengaruh terhadap prestasi kerja karyawan dan menunjukkan moril atau motivasi kerja karyawan yang rendah. Sedangkan menurut Alex S. Nitisemito (1992:167), faktor-faktor yang mempengaruhi turunnya motivasi kerja diantaranya adalah:
a. Upah yang terlalu rendah
b. Insentif yang kurang terarah
c. Lingkungan kerja yang buruk.
Menurut Heidjrachman Ranupandojo dan Irawan Sukamto Reksohadiprojo (1992:110), ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi kerja, yaitu:
a. kepuasan dalam bekerja merupakan syarat lebih maju;
b. pimpinan yang menghargai karyawan sebagai manusia dan menganggap bahwa pekerjaan itu penting;
c. adanya pimpinan yang menjalankan tugasnya dengan baik;
d. upah dalam bentuk komponen yang sama bagi setiap orang yang menjalankan tugas yang sama;
e. perhatian masyarakat untuk kemakmuran dan kemajuan karyawan;
f. adanya hubungan baik dengan kolega-kolega lain.
Adapun faktor-faktor yang mendukung motivasi kerja adalah:
1. Pelayanan kesejahteraan
2. Pemberian balas jasa
3. Suasana lingkungan
4. Promosi.

Tipe Perilaku Pembelian

Tipe-tipe perilaku pembelian menurut Philip Kotler yang dialih bahasakan oleh Hendra Teguh, Ronny A. Rusli dan Benjamin Molan (2002: 202) adalah sebagai berikut:
1. Perilaku pembelian yang rumit
Konsumen terlibat dalam perilaku pembelian yang rumit saat menyadari adanya perbedaan yang signifikan diantara berbagai merek produk. Hal ini biasanya menjadi kasus apabila konsumen tidak banyak tahu tentang kategori produk yang ingin dibeli dan harus belajar banyak mengenai hal tersebut. Biasanya produk yang akan dibeli mahal dan berisiko tinggi serta sangat mengekspresikan pribadi.
2. Perilaku pembelian pengurang disonasi
Konsumen mungkin mengalami disonasi atau ketidakcocokan sebelum membeli suatu produk, karena terdapat beberapa hal dari produk tersebut yang tidak menyenangkan atau mendengar sesuatu yang menarik tentang produk lainnya yang sejenis. Dalam hal ini, konsumen mulai belajar mengenai hal-hal lain dan berupaya untuk membenarkan keputusan guna mengurangi ketidakcocokan. Hal pertama yang akan dilakukan oleh konsumen adalah melalui suatu keadaan perilaku, kemudian memiliki beberapa kepercayaan baru dan beralih dengan penilaian terhadap pilihan yang dirasa tepat.
3. Perilaku pembelian karena kebiasaan
Banyak produk yang dibeli dalam keadaan konsumen kurang terlibat dan tidak terdapat perbedaan yang nyata diantara sekian banyak merek. Kebanyakannya barang-barang yang dibeli adalah produk-produk yang murah tidak terlalu berisiko.
4. Perilaku pembelian yang mencari variasi
Pada tipe ini beberapa situasi keterlibatan konsumen rendah, tetapi ditandai oleh perbedaan merek yang nyata. Dalam pernyataan demikian sering terlihat konsumen banya melakukan pergantian merek semata-mata karena telah jenuh dan ingin memperoleh keragaman, bukan karena rasa tidak puas.

tahap proses pembelian konsumen

Menurut Philip Kotler yang dialihbahasakan oleh Hendra Teguh, Ronny A. Rusli dan Benjamin Molan (2002:204) mengemukakan tahap-tahap dalam proses pembelian konsumen adalah sebagai berikut:
1. Pengenalan Masalah (Need Recognition)
Proses pembelian yang dimulai ketika pembeli mengenal suatu masalah atau kebutuhan. Kebutuhan tersebut dapat digerakan oleh rangsangan baik dari dalam maupun dari luar diri pembeli, dimana pembeli tersebut merasakan adanya perbedaan antara keadaannya yang nyata dengan keadaan yang diinginkan.
2. Pencarian Informasi (Information Search)
Seorang konsumen yang mulai tergerak oleh rangsangan mungkin akan berusaha mencari lebih banyak informasi. Ada kemingkinan seseorang akan aktif mencari informasi yang dibutuhkan tetapi ada juga yang tidak.
3. Evaluasi Alternatif (Evaluation of Alternative)
Setelah mengumpulkan informasi tentang berbagai merek produk yang dibutuhkannya, konsumen menentukan pilihannya dari berbagai alternative yang tersedia berdasarkan pertimbangan produk yang sadar dan rasional. Proses evaluasi konsumen bersifat kognitif yaitu mereka memandang konsumen sebagai pembentuk penilaian terhadap produk terutama berdasarkan pada pertimbangan yang sadar dan rasional.
4. Keputusan Pembelian (Purchase Decision)
Tahap evaluasi alternative menyebabkan konsumen membuat preferenai merek diantara berbagai pilihan yang tersedia. Selanjutnya konsumen membuat keputusan untuk membeli merek yang telah dipilih melalui berbagai petimbangan.
5. Perilaku Pasca Pembelian (Post Purchase Behavior)
Setelah membeli produk kosumen membentuk suatu perilaku yang menyinggung tingkat dan ketidakpuasan akan produk yang dibelinya, serta mengambil tindakan lanjutan.

teknik-teknik pelatihan

1. On The Job Training
Karyawan dilatih tentang karyawan baru dengan supervisi langsung seorang “ pelatih “ yang berpengalaman (biasanya karyawan lain). Berbagai macam tehnik ini yang biasa digunakan dalam praktek adalah sebagai berikut :
a. Rotasi Jabatan
Memberikan kepada karyawan pengetahuan tentang bagian-bagian organisasi yang berbeda dan praktek berbagai macam keterampilan manajerial
b. Pelatihan Instruksi Pekerjaan
Petunjuk-petunjuk pekerjaan diberikan secara langsung pada pekerjaan dan digunakan terutama untuk melatih para karyawan tentang cara pelaksanaan pekerjaan mereka sekarang
c. Magang (Apprenticeships)
Merupakan proses belajar dari seorang atau beberapa orang yang lebih berpengalaman. Asistensi dan internship adalah bentuk lain program magang
d. Coaching
Penyelia atau atasan memberikan bimbingan dan pengarahan kepada karyawan dalam pelaksanaan kerja rutin mereka. Hubungan penyelia dan karyawan sebagai bawahan serupa dengan hubungan tutor – mahasiswa

e. Penugasan Sementara
Penempatan karyawan pada posisi manajerial atau sebagai anggota panitia tertentu untuk jangka waktu yang diterapkan. Karyawan terlibat dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah-masalah organisasional nyata.

endorser sebagai penyampai pesan

Menurut Terence A. Shimp (2002:455) endorser adalah pendukung iklan atau juga yang dikenal sebagai bintang iklan yang mendukung produk yang di iklankan. Endorser dibagi menjadi dua jenis:
 Typical Person Endorser
Adalah memanfaatkan beberapa orang bukan selebritis untuk menyampaikan pesan mengenai suatu produk.
 Celebrity Endorser
Adalah arang-orang terkenal yang dapat mempengaruhi karena prestasinya.
Kedua jenis endorser diatas memilih karakteristik dan atribut yang sama hanya dibedakan dalam penggunaan orang-orangnya sebagai pendukung apakah orang-orang yang digunakan sebagai endorser tokoh terkenal atau tidak. Dalam hal ini, pembahsannya hanya difokuskan pada penyampaian pesan menggunakan orang-orang terkenal (celebrity endorser) saja dan orang-orang biasa atau typical-person endorser dianggap konstan.
Menurut Terence A. Shimp (2002:455) definsi celebrity endorser adalah memanfaatkan seorang artis, entertainer, atlet, dan publik figur yang mana banyak diketahui oleh orang banyak untuk keberhasilan dibidangnya masing-masing dari bidang yang didukung. Sekarang ini kebanyakan perusahaan menggunakan selebriti dibanding orang biasa untuk mengiklankan produknya karena selebriti memilki atribut kesohorannya, kecantikan, keberanian, talenta, kekuatan, keanggunan, dan daya tarik seksualnya sehingga sering mewakili daya tarik yang diinginkan perusahaan iklan. Untuk membuat selebriti efektif sebagai pendukung produk tertentu dalam suatu iklan maka harus memiliki hubungan yang berarti (meaningful relationship) atau kecocokan (match-up) antara selebriti dengan produk yang di iklankan oleh selebriti tersebut.
Lebih lanjut Terence A. Shimp (2002:468) terjemahan Revyani Syahrial dan Dyah Anikasari memberikan penjelasan mengenai atribut (performance) endorser antara lain :
 Attractiveness (daya tarik)
Daya tarik tidak hanya berkaitan dengan menarik secara fisik saja, tetapi termasuk karakteristik yang luhur yang dipersiapkan oleh konsumen dalam diri endorser seperti : kemampuan intelektual, kepribadian, gaya hidup dan keahlian dalam bidang atletik. Konsep umum kemenarikan ini terdiri dari tiga gagasan yang berhubungan dengan kesamaan (similarity), keakraban (familiarity), dan perasaan suka (liking). Jadi seorang endorser dianggap atraktif bagi konsumen apabila dapat memberikan kesamaan dan keakraban (sense of similiarity and familiarity), dengan catatan konsumen tersebut benar-benar menyukai endorser tanpa memperhatikan apakah ia dan endorser memilki kemiripan. Daya tarik yang ditemukan oleh konsumen dalam diri endorser merupakan bagian dari proses identifikasi : ialah pada saat konsumen mempersepsikan endorser menarik, konsumen akan memihak pada endorser, tetapi daya tarik tersebut lebih efektif apabila image dari endorser cocok dengan sifat dari produk yang di iklankan.
 Credibility (kredibilitas)
Pengertian yang paling mendasar, kredibilits mengarah pada kecenderungan untuk meyakini dan untuk mempercayai seseorang. Pada saat sumber informasi, seperti sorang endorser dipersiapkan kredibilitasnya, maka sumber tersebut mengubah sikap melalui proses psikologis yang dinamakan internalisasi, dua hal penting dari kredibilitas endorser :
1. Keahlian (expertise)
keahlian mengarah pada pengetahuan, pengalaman, atau keahlian yang dimilki oleh seorang endorser yang dihubungkan dengan topik yang dikomunikasikan. Keahlian adalah sesuatu yang dipersiapkan bukan merupakan fenomena yang absolute, sehingga yang terpenting adalah bagaimana endorser dapat dipersiapkan oleh konsumen.
2. Layak dan dipercaya (trust worthiness)
Berhubungan dengan kejujuran, integritas, dan kepercayaan atas diri endorser. Layak atau tidaknya endorser untuk dipercaya tergantung pada persepsi konsumen atas motivasi sang endorser. Konsumen meyakini jika endorser dimotivasikan oleh pemenuhan kebutuhan yang sifatnya sef-seving, maka akan menjadi kurang persuasif dari pada endorser yang dipersepsikan oleh konsumen.
Menurut Sciffman dan Kanuk (2004:297) credibility of source (keperyaan sumber) dapat dilihat dari dua bagian yaitu :
a. Kepercayaan sumber secara informal seperti : teman, tetangga, dan pengaruh yang kuat terhadap perilaku penerima untuk melakukan transaksi produk yang dianjurkan.
b. Kepercayaan sumber secara formal seperti : reputasinya, keahliannya, dan pengetahuannya.
Kredibilitas dan kepercayaan merupakan sifat yang harus dmiliki seseorang komunikator, karena apa yang disampaikannya kepada konsumen baik secara lisan maupun tulisan dianggap benar dan memang apa adanya.
Menurut Sciffman dan Kanuk (2004:340), dari semua karakteristik positif yang dimilki oleh seorang selebriti yang terpenting dalam program kampanye program periklanan adalah ketenaran, talenta, karisma. Kredibilitas juga merupakan hal yang sangat penting, yang dimaksudkan kredibilitas disini sejauh mana selebriti mengetahui produk atau jasa yang di iklankannya dan kelayakan untuk dipercaya, seberapa jujur yang dikatakan oleh selebritis tersebut mengenai produk yang di iklankan.

endorser sebagai penyampai pesan

Menurut Terence A. Shimp (2002:455) endorser adalah pendukung iklan atau juga yang dikenal sebagai bintang iklan yang mendukung produk yang di iklankan. Endorser dibagi menjadi dua jenis:
 Typical Person Endorser
Adalah memanfaatkan beberapa orang bukan selebritis untuk menyampaikan pesan mengenai suatu produk.
 Celebrity Endorser
Adalah arang-orang terkenal yang dapat mempengaruhi karena prestasinya.
Kedua jenis endorser diatas memilih karakteristik dan atribut yang sama hanya dibedakan dalam penggunaan orang-orangnya sebagai pendukung apakah orang-orang yang digunakan sebagai endorser tokoh terkenal atau tidak. Dalam hal ini, pembahsannya hanya difokuskan pada penyampaian pesan menggunakan orang-orang terkenal (celebrity endorser) saja dan orang-orang biasa atau typical-person endorser dianggap konstan.
Menurut Terence A. Shimp (2002:455) definsi celebrity endorser adalah memanfaatkan seorang artis, entertainer, atlet, dan publik figur yang mana banyak diketahui oleh orang banyak untuk keberhasilan dibidangnya masing-masing dari bidang yang didukung. Sekarang ini kebanyakan perusahaan menggunakan selebriti dibanding orang biasa untuk mengiklankan produknya karena selebriti memilki atribut kesohorannya, kecantikan, keberanian, talenta, kekuatan, keanggunan, dan daya tarik seksualnya sehingga sering mewakili daya tarik yang diinginkan perusahaan iklan. Untuk membuat selebriti efektif sebagai pendukung produk tertentu dalam suatu iklan maka harus memiliki hubungan yang berarti (meaningful relationship) atau kecocokan (match-up) antara selebriti dengan produk yang di iklankan oleh selebriti tersebut.
Lebih lanjut Terence A. Shimp (2002:468) terjemahan Revyani Syahrial dan Dyah Anikasari memberikan penjelasan mengenai atribut (performance) endorser antara lain :
 Attractiveness (daya tarik)
Daya tarik tidak hanya berkaitan dengan menarik secara fisik saja, tetapi termasuk karakteristik yang luhur yang dipersiapkan oleh konsumen dalam diri endorser seperti : kemampuan intelektual, kepribadian, gaya hidup dan keahlian dalam bidang atletik. Konsep umum kemenarikan ini terdiri dari tiga gagasan yang berhubungan dengan kesamaan (similarity), keakraban (familiarity), dan perasaan suka (liking). Jadi seorang endorser dianggap atraktif bagi konsumen apabila dapat memberikan kesamaan dan keakraban (sense of similiarity and familiarity), dengan catatan konsumen tersebut benar-benar menyukai endorser tanpa memperhatikan apakah ia dan endorser memilki kemiripan. Daya tarik yang ditemukan oleh konsumen dalam diri endorser merupakan bagian dari proses identifikasi : ialah pada saat konsumen mempersepsikan endorser menarik, konsumen akan memihak pada endorser, tetapi daya tarik tersebut lebih efektif apabila image dari endorser cocok dengan sifat dari produk yang di iklankan.
 Credibility (kredibilitas)
Pengertian yang paling mendasar, kredibilits mengarah pada kecenderungan untuk meyakini dan untuk mempercayai seseorang. Pada saat sumber informasi, seperti sorang endorser dipersiapkan kredibilitasnya, maka sumber tersebut mengubah sikap melalui proses psikologis yang dinamakan internalisasi, dua hal penting dari kredibilitas endorser :
1. Keahlian (expertise)
keahlian mengarah pada pengetahuan, pengalaman, atau keahlian yang dimilki oleh seorang endorser yang dihubungkan dengan topik yang dikomunikasikan. Keahlian adalah sesuatu yang dipersiapkan bukan merupakan fenomena yang absolute, sehingga yang terpenting adalah bagaimana endorser dapat dipersiapkan oleh konsumen.
2. Layak dan dipercaya (trust worthiness)
Berhubungan dengan kejujuran, integritas, dan kepercayaan atas diri endorser. Layak atau tidaknya endorser untuk dipercaya tergantung pada persepsi konsumen atas motivasi sang endorser. Konsumen meyakini jika endorser dimotivasikan oleh pemenuhan kebutuhan yang sifatnya sef-seving, maka akan menjadi kurang persuasif dari pada endorser yang dipersepsikan oleh konsumen.
Menurut Sciffman dan Kanuk (2004:297) credibility of source (keperyaan sumber) dapat dilihat dari dua bagian yaitu :
a. Kepercayaan sumber secara informal seperti : teman, tetangga, dan pengaruh yang kuat terhadap perilaku penerima untuk melakukan transaksi produk yang dianjurkan.
b. Kepercayaan sumber secara formal seperti : reputasinya, keahliannya, dan pengetahuannya.
Kredibilitas dan kepercayaan merupakan sifat yang harus dmiliki seseorang komunikator, karena apa yang disampaikannya kepada konsumen baik secara lisan maupun tulisan dianggap benar dan memang apa adanya.
Menurut Sciffman dan Kanuk (2004:340), dari semua karakteristik positif yang dimilki oleh seorang selebriti yang terpenting dalam program kampanye program periklanan adalah ketenaran, talenta, karisma. Kredibilitas juga merupakan hal yang sangat penting, yang dimaksudkan kredibilitas disini sejauh mana selebriti mengetahui produk atau jasa yang di iklankannya dan kelayakan untuk dipercaya, seberapa jujur yang dikatakan oleh selebritis tersebut mengenai produk yang di iklankan.

periklanan

Periklanan merupakan suatu alat yang sangat efektif dalam memsarkan suatu produk. Menurut Philip Kotler yang dialih bahasakan oleh Hendra teguh, Ronny A Rusli dan Benjamin Molan (2002:658), periklanan didefinisikan sebagai berikut :
“Periklanan adalah segala bentuk penyajian dan promosi ide, barang atau jasa secara non-personal oleh suatu sponsor yang memerlukan pembayaran.”

Sedangkan pengertian periklanan menurut William G. Nickles yang dikutip oleh Basu Swastha (2002:245) adalah sebagai berikut :
“Periklanan adalah komunikasi non-individu, dengan sejumlah biaya, melalui berbagai media yang dilakukan oleh perusahaan, lembaga non-laba, serta individu-individu.”

Jadi periklanan dilakukan dengan mengeluarkan sejumlah biaya, yang berbeda dengan publisitas ialah disiarkan tanpa mengeluarkan biaya. Periklanan juga merupakan alat yang digunakan oleh pembeli dan penjual, serta setiap orang termasuk lembaga non-laba. Atau dengan kata lain, periklanan dapat dipandang sebagai kegiatan penawaran kepada suatu kelompok masyarakat baik secara lisan ataupun dengan penglihatan (berupa berita) tentang suatu produk, jasa atau ide.

2.4.2 Fungsi dan Tujuan Periklanan
Fungsi dan tujuan utama dari periklanan menurut Terence A. Shimp yang dialih bahasakan oleh Revyani Sjahrial, dan Dyah Anikasari (2002:357) yaitu :
1. Informing (menginformasikan), melalui iklan konsumen memperoleh informasi mengenai keberadaan produk atau jasa, memberikan informasi mengenai manfaat dari produk atau jasa tersebut dan memberikan informasi mengenai merek-merek tertentu.
2. Persuading (membujuk), iklan yang efektif akan mampu membujuk konsumen untuk mencoba produk atau jasa yang diiklankan, terkadang persuasi dapat berbentuk mempengaruhi permintaan primer yaitu menciptakan permintaan bagi keseluruhan kategori produk. Selain itu iklan berupaya membangun permintaan sekunder yaitu permintaan bagi merek perusahaan yang spesifik.
3. Reminding (mengingatkan), iklan menjaga agar merek perusahaan tetap segar dalam ingatan para konsumen. Saat kebutuhan muncul, yang berhubungan dengan produk yang diiklankan, maka pengaruh dari iklan-iklan yang telah mereka saksikan sebelumnya memungkinkan para pengiklan merek-merek tersebut untuk hadir dibenak konsumen sebagai kandidat merek yang akan dibeli.
4. Adding value (menambah nilai), ada tiga cara dasar agar perusahaan bisa memberikan nilai tambah bagi produk mereka, yaitu melakukan inovasi, meningkatkan kualitas ataupun mengubah persepsi konsumen. Iklan yang efektif menyebabkan merek dipandang lebih elegan, lebih bergaya, lebih bergengsi, dan lebih unggul dibandingkan dengan pesaing.
5. Assisting other company effort (Bantuan untuk usaha perusahaan yang lain dalam proses pemasaran), iklan hanyalah salah satu anggota alat dari bauran pemasaran. Peran utama dari iklan adalah sebagai pendamping yang memfasilitasi usaha-usaha lain dari perusahaan dalam proses komunikasi pemasaran. Iklan mungkin digunakan sebagai alat komunikasi untuk meluncurkan promosi-promosi penjualan perusahaan seperti publikasi program kupon sehingga iklan dapat menarik perhatian konsumen terhadap program tersebut.

Pengertian Pelatihan Kerja

Hal penting dalam sebuah perusahaan adalah mensosialisasi para karyawannya ke dalam budaya perusahaan agar mereka dapat menjadi karyawan yang produktif dan efektif, segera setelah memasuki dan menjadi anggota sistem sosial pada perusahaan.
Para karyawan baru biasanya telah mempunyai kecakapan dan keterampilan dasar yang dibutuhkan. Tidak jarang pula para karyawan baru yang diterima tidak mempunyai kemampuan secara penuh untuk melaksanakan tugas-tugas pekerjaan mereka. Bahkan para karyawan yang sudah berpengalaman pun perlu belajar dan menyesuaikan dengan organisasi orang-orangnya, kebijaksanaan-kebijaksanaannya dan prosedur-prosedurnya.
Jika sebuah perusahaan ingin memiliki daya saing tinggi di masa depan, maka salah satu upaya strategis yang perlu dilakukan adalah menciptakan sebuah proses belajar berkelanjutan di seluruh lapisan karyawan melalui pelatihan dan pengembangan.
Ada dua tujuan utama pelatihan dan pengembangan karyawan yaitu Pertama, pelatihan dan pengembangan dilakukan untuk menutup kesenjangan antara kecakapan atau kemampuan karyawan dengan permintaan jabatan. Kedua, program-program tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja karyawan dalam mencapai sasaran-sasaran kerja yang telah ditetapkan.
Pengertian pelatihan dan pengembangan adalah berbeda. Menurut T. Hani Handoko (2000 : 104) mengemukakan bahwa :
“Pelatihan (training) dimaksudkan untuk memperbaiki penguasaan berbagai keterampilan dan tehnik pelaksanaan kerja tertentu, terinci dan rutin. Pelatihan menyiapkan para karyawan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sekarang. Di lain pihak, bila manajemen ingin menyiapkan para karyawan untuk memegang tanggung jawab pekerjaan di waktu yang akan datang, kegiatan ini disebut pengembangan sumber daya manusia. Pengembangan (development) mempunyai ruang lingkup lebih luas dalam upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan pengetahuan, kemampuan, sikap dan sifat-sifat kepribadian.“
Menurut Tb. Sjafri Mangkuprawira (2004 : 135) dalam bukunya “Manajemen Sumber Daya Manusia Strategik“ mengemukakan bahwa :
“ Pelatihan bagi karyawan merupakan sebuah proses mengajarkan pengetahuan dan keahlian tertentu serta sikap agar karyawan semakin terampil dan mampu melaksanakan tanggung jawabnya dengan semakin baik, sesuai dengan standar. Biasanya pelatihan merujuk pada pengembangan keterampilan bekerja yang dapat digunakan dengan segera. Sedangkan pengembangan berupa upaya meningkatkan pengetahuan yang mungkin digunakan segera atau sering untuk kepentingan di masa depan.“
Istilah pelatihan dan pengembangan merujuk pada struktur total dari program di dalam dan luar pekerjaan karyawan yang dimanfaatkan perusahaan dalammengembangkan keterampilan dan pengetahuan, utamanya untuk kinerja pekerjaan.
Menurut Michael R. Carrel yang dialihbahasakan oleh Tb. Sjafri Mangkuprawira (2004 : 136) mengemukakan bahwa : “ ada 7 (tujuh) maksud utama program pelatihan dan pengembangan, yaitu memperbaik kinerja, meningkatkan keterampilan karyawan, menghindari keusangan manajerial, memecahkan permasalahan, orientasi karyawan baru, persiapan promosi dan keberhasilan manajerial, dan memberi kepuasan untuk kebutuhan pengembangan personal.“

Berdasarkan pengertian tersebut di atas maka dapat kita ketahui bahwa pelatihan adalah suatu proses pendidikan jangka pendek dengan menggunakan prosedur yang sistematis dan terorganisir, sehingga karyawan operasional belajar pengetahuan tehnik belajar dan keahlian untuk tujuan tertentu dan merupakan suatu usaha peningkatan pengetahuan dan keahlian seorang karyawan untuk mengerjakan suatu pekerjaan tertentu.

Proses Komunikasi

Komunikasi secara efektif merupakan bagian penting dari strategi pemsaran dalam menyampaikan pesan suatu produk, pemasar perlu memahami unsur-unsur fundamental yang mendasari komunikasi yang efektif. Unsur-unsur yang mendukung proses komunikasi menurut Djaslim Saladin (2002:123) adalah sebagai berikut :

  1. Pengirim (sender), merupakan kelompok yang mengirim pesan ke kelompok lainnya, dan disebut juga sumber atau komunikator.
  2. Pengkodean (encoding), merupkan suatu proses penyebaran dalam bentuk simbol.
  3. Pesan (massage), merupakan serangkaian simbol-simbol yang disampaikan pengirim.
  4. Media (media), merupakan suatu saluran dimana pesan dikirim atau mengalir dari pengirim ke penerima.
  5. Penguraian kode (decoding), merupakan suatu proses dimana penerima mengartikan atau menterjemahkan simbol-simbol yang disampaikan ke pengirim.
  6. Penerima (receiver), merupakan suatu kelompok yang menerima pesan yang dikirimkan oleh kelompok lain.
  7. Tanggapan (response), merupakan serangkaian dari reaksi-reaksi dimana si penerima telah mengekspos ke dalam pesan-pesan.
  8. Umpan balik (feedback), merupakan sebagian dari respon si penerima yang dikomunikasikan kembali kepada si pengirim.
  9. Gangguan (noise), merupakan ganguan tidak terduga selama proses komunikasi, sehingga mengakibatkan pesan yang diterima berbeda dengan yang dikirim.

Gambar berikut menunjukkan suatu model komunikasi dengan sembilan unsur.


 

Elemen-elemen dalam Proses komunikasi

Sumber : Philip Kotler yang dialih bahasakan oleh Hendra Teguh,

Ronny A. Rusli dan Benjamin Molan (2002:627)

    Model itu menekankan faktor-faktor penting dalam komunikasi yang efektif. Pengirim harus mengetahui siapa yang ingin dicapai dan tanggapan apa yang diinginkan. Mereka harus mengkodekan pesan mereka dalam suatu cara dengan mempertimbangkan bagaimana pendengar sasaran biasanya menguraikan kode pesan. Mereka juga harus mengirim pesan itu melalui media yang efisien guna mencapai pendengar sasaran dan membangun saluran umpan balik untuk memantau tanggapan penerima atas pesan itu.

PROMOSI DAN BAURAN PROMOSI

Menurut Basu Swasta (2002:237), pengertian promosi adalah sebagai berikut :

"Promosi adalah arus informasi atau persuasi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan seseorang atau organisasi kepada tindakan yang menciptakan pertukaran dalam pemasaran".

Sedangkan pengertian promosi yang dikemukakan Djaslim Saladin (2002:123) adalah sebagai berikut :

"Promosi adalah suatu komunikasi informasi penjual dan pembeli yang bertujuan untuk merubah sikap dan tingkah laku pembeli, yang tadinya tidak mengenal menjadi mengenal sehingga menjadi pembeli dan tetap mengingat produk tersebut."

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan :

Promosi sebagai alat bantu untuk mengidentifikasikan produk agar produk tersebut bisa dikenak oleh konsumen. Sebagai alat untuk menghimbau pembeli. Sebagai alat untuk meneruskan informasi dalam proses pengambilan keputusan pembelian.    


 

Bauran Promosi

Menurut J. Stanton yang dikutip oleh Basu Swastha (2002 : 238), bauran promosi didefinisikan sebagai berikut :

"Bauran promosi adalah kombinasi starategi yang paling baik dari variabel-variabel periklanan, personal selling, dan alat promosi yang lain, yang kesemuanya direncanakan untuk mencapai tujuan program penjualan".

Sedangkan pengertian bauran pemasaran menurut Philip Kotler (2002:642) tejemahan Hendra Teguh adalah sebagai berikut :

"Bauran promosi adalah semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya kepada pasar sasaran".

Iklan merupakan salah satu dari bauran promosi (promotion mix) dan bauran promosi merupakan salah satu dari bauran pemasaran (marketing mix). Saat ini perusahaan menggunakan lebih dari satu bentuk promosi sebagai bagian dari strategi yang dilakukan oleh perusahaan. Adapun yang termasuk kedalam kegiatan bauran promosi antara lain :

Periklanan (advertising)

    Periklanan adalah segala bentuk penyajian dan promosi ide, barang atau jasa secara non-personal oleh suatu sponsor tertentu yang memerlukan pembayaran.

Promosi penjualan (sales promotion)

    Promosi penjualan adalah kegiatan-kegiatan pemasaran selain personal selling, periklanan, dan publisitas, yang mendorong efektivitas pembelian konsumen dan pedagang dengan menggunakan alat-alat seperti peragaan, pameran, demonstrasi, dan sebagainya.

Hubungan masyarakat dan publisitas (public relation and publicity)

    Hubungan masyarakat merupakan alat promosi yang penting dan ditujukan untuk membangun opini masyarakat dalam rangka memelihara, meningkatkan dan melindungi citra perusahaan dan produknya.

Penjualan personal (personal selling)

    Penjualan personal merupakan presentasi lisan dalam suatu percakapan dengan satu atau lebih calon pembeli dengan tujuan menciptakan penjualan.

Pemasaran langsung (direct marketing)

Pemasaran langsung adalah suatu sistem pemasaran interaktif yang menggunakan satu atau lebih media periklanan untuk "respon yang terukur" dan atau lebih transaksi di lokasi manapun.

Menurut Philip Kotler (2002:626) terjemahan Benyamin Molan dalam bukunya manajemen pemasaran, dalam mengembangkan program periklanan perusahaan harus memutuskan 5 M, yaitu :

Apakah tujuan periklanan (mission)

Tujuan periklanan ini adalah tugas komunikasi spesifik untuk dilaksanakan dengan audiens sasaran spesifik dalam periode waktu spesifik. Tujuan ini dapat diklarifikasikan berdasarkan tujuan primer apakah untuk memberikan informasi, atau mengingatkan.

Memutuskan anggaran periklanan (money)

Ada lima faktor spesifik yang perlu dipertimbangkan saat menetapkan anggaran periklanan antara lain :

Tahap dalam siklus hidup produk

Pangsa pasar dan basis konsumen

Frekuensi periklanan

Kemungkinan substitusi produk

Apakah pesan yang akan disampaikan (message)

Pesan yang akan disampaikan melalui iklan bisa dikatakan sukses apabila mendapat perhatian dan mampu berkomunikasi pada konsumen dengan baik. Salah satu dimensinya yaitu sumber pesan sudah mencakup aspek yang diteliti dimana didalamnya terdapat pendukung iklan (celebrity endorser).

Media yang akan digunakan (media)

Langkah-langkah penting dalam memilih media :

Memutuskan jangkauan, frekuensi, dan dampak

Memilih diantara tife media utama

Memilih wahana media spesifik

Menetapkan waktu penayangan

Mengevaluasi (measurement)

Pengevaluasian harus memperhatikan keefektivitasan yang sesuai dengan tujuan iklan yaitu information, persuading, dan reminding dimana berkaitan erat dengan minat beli karena itu penelitian ini berfokus pada aspek promosi yaitu celebrity endorser.


 

Rabu, 20 Agustus 2008

My Foto Collection

Mengatasi Stress Saat Bekerja

Berikut ini beberapa cara mengatasi stress yang diberikan Rebecca Bogle Ada lima cara sederhana Rebecca untuk mengatasi stres, yaitu sebagai berikut :

  1. Bernafas

Kita dapat meniru teknik pranayama dengan tarik nafas dalam-dalam selama empat detik melalui hidung, kemudian tahan sekira empat detik. Setelah itu, keluarkan secara perlahan lewat mulut. Ulangi langkah ini selama satu menit.

2. Gerak badan

Stres terkadang diakibatkan oleh suasana yang kurang cocok atau lingkungan kerja yang penuh tekanan. Hal itu membuat kita semakin mudah tertekan atau stres. Cobalah berdiri dengan merentangkan kedua tangan dan gelengkan kepala ke kanan-kiri, serta depan belakang secara perlahan.

3. Tersenyum atau tertawa

Luangkan waktu untuk menikmati hal yang disukai atau lucu. Hal itu perlu dilakukan untuk memberikan mood senang dan gembira. Senyum yang dilakukan secara otomatis akan memberikan suasana dan sikap yang positif. Dapat juga dengan membaca komik dan menonton video sekitar lima menit. Cara ini sudah cukup bermanfaat untuk mengembalikan kejernihan pikiran.

4. Rebahkan tubuh sesaat

Rebahkan tubuh untuk sesaat, diikuti dengan mengendurkan pergelangan kaki, lutut, paha, dan organ tubuh lainnya. Setelah itu beri tekanan pada otot muka dengan memainkan mimik muka. Jika memungkinkan, dapat berjemur di bawah sinar matahari pagi dengan suasana yang tenang.

5. Meditasi

Tutup mata kemudian tarik nafas dalam-dalam. Bayangkan sebuah mawar merah berada di depan. Bayangkan bunga mawar tersebut mulai membentuk daun lengkap dengan warna dan bentuknya yang umum dilihat. Rasakan bau dan aroma wanginya mengisi tubuh. Kemudian pelan-pelan buka mata untuk menjaga bunga mawar tersebut tetap hidup dalam pandangan, beberapa saat saja.

Gejala Stress

Stres memperlihatkan bentuk dalam sejumlah cara. Stephen P. Robbins (2002:319) menjelaskan umumnya stres awal ditunjukan dengan gejala psikologikal, topik ini diteliti oleh spesialis dalam ilmu kesehatan dan kedokteran. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa stres dapat menciptakan perubahan metabolisme dalam tubuh, mempercepat detak jantung, dam sesak nafas, menaikan tekanan darah, mudah sakit kepala dan serangan jantung. Hubungan antara gejala stres dengan fakta diagnosis fisiologikal tidaklah jelas. Terdapat sedikit hubungan tetap dari keduanya, itupun jika ada. Ketidakmampuan untuk menghubungkan stres dengan gejala-gejala tertentu dikarenakan oleh kerumitan gejala-gejala tersebut dan kesukaran dalam mengukur gejala-gejala tersebut secara objektif. Akan tetapi, gejala fisiologikal setidak-tidaknya memiliki sangkut paut langsung dengan manajer.

    Yang lebih penting lagi adalah gejala psikologikal. Stres dapat disebabkan oleh rasa tidak puas akan sesuatu. Pekerjaan yang erat hubungannya dengan stres dapat menghasilkan pekerjaan yang erat hubungannya dengan rasa tidak puas. Rasa tidak puas merupakan efek psikologikal yang paling jelas akan stres. Tetapi stres menampakan bentuknya dalam keadaan psikologikal yang lain. Seperti, merasa tegang, gelisah, mudah marah, cepat bosan, suka menunda sesuatu hal. Gejala stres lain yaitu, prilaku yang mencakup perubahan dalam produktifitas, sering lupa, perubahan pola makan, menjadi perokok, atau mengkonsumsi alkohol, berbicara dengan cepat, perasaan gelisah, dan tidur tidak teratur.

    Dalam Rebecca Bogle menjelaskan tentang hal-hal yang bisa memicu stres muncul seperti rasa khawatir, perasaan kesal, kecapekan, frustasi, perasaan tertekan, kesedihan, pekerjaan yang berlebihan, Pre Menstrual Syndrome (PMS), terlalu fokus pada suatu hal, perasaan bingung, berduka cita dan juga rasa takut. Biasanya hal ini dapat diatasi dengan mengadakan konsultasi kepada psikiater atau beristirahat total.

    Gejala-gejala stres mencakup mental, sosial dan fisik. Hal-hal ini meliputi kelelahan, kehilangan atau meningkatnya napsu makan, sakit kepala, sering menangis, sulit tidur dan tidur berlebihan. Melepaskan diri dari alkohol, narkoba, atau perilaku kompulsif lainnya sering merupakan indikasi-indikasi dari gelaja stres. Perasaan was-was, frustrasi, atau kelesuan dapat muncul bersamaan dengan stres.

Stress Kerja

Stres atau ketegangan itu dialami banyak anggota organisasi atau instansi karena konflik yang mereka rasakan antara kebebasan dan komitmennya pada organisasi, tekanan organisasi untuk penyesuaian tuntunan sehari – hari ditempat kerja dan bermacam – macam bentuk konflik yang terjadi. Berbagai bentuk masalah selalu dihadapi dari waktu kewaktu baik masalah yang berkaitan dengan pekerjaan maupun diluar pekerjaan yang tentu saja mempengaruhi karyawan secara emosional.

    Kecenderungan yang terjadi dalam dunia kerja pada umumnya, beban kerja yang dihadapi karyawan bisa menjadi penyebab timbulnya stres, apalagi dengan masalah – masalah yang terjadi diluar pekerjaan yang berkaitan dengan kehidupan kehidupan pribadi karyawan tersebut mempercepat terjadinya stres sehingga mempengaruhi juga kedisiplinan kerja pegawai serta kepuasan kerjanya.

    Seperti yang diungkap Ivancevich ( 1995 : 97 ), " Stres kerja yang muncul akan ditandai oleh beberapa indikasi antara lain kecemasan, agresi, frustasi, jenuh, bosan, dan lain sebagainya."

    T. Hani Handoko ( 1992 : 2000 ) mengemukakan bahwa stres adalah :

" Suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi proses berfikir dan kondisi seseorang, "

Sedangkan dalam pengertian yang lugas definisi stres yang berkaitan dengan pekerjaan menurut Gibson ( 1993 : 204 ) adalah :

" Suatu tanggapan adaptif, ditengahi oleh perbedaan individual dan atau proses psikologis yaitu konsekuensi yang membebani tuntutan psikologis atau fisik yang berlebihan terhadap seseorang."

Sedangkan pengertian stres dalam Encyclopedia Britanica disebutkan :

"Stress in psychology, a demand, treat, or other event that rekueres an individual to cope whith a changed situtation. Stesses are an unavoidlable part of life. They range in severity from from relatively mild froms, such as atrafic jam, a disparaging rimark from one's employer, or afamili argumen, to severe ones, such as the death of a spouse or the far of dying in battle'.

Adapun pengertian stres menurut kamus besar bahasa indonesia yang di susun oleh departemen pendidikan nasional mendefinisiskan stres sebagai berikut:

" Stres adalah ganggoan atau kekacauan mental dan emosional; tekanan "

Selasa, 19 Agustus 2008

Konsep Pemasaran

Aktivitas-aktivitas pemasaran seharusnya dilaksanakan dengan mempertimbangkan
efisiensi, efektivitas, dan tanggung jawab sosial pemasaran. Di dalam khasanah
pemasaran terdapat lima konsep yang mendasari aktivitas pemasaran perusahaan:
konsep produksi, konsep produk, konsep penjualan, konsep pemasaran, dan konsep
pemasaran sosial.
Konsep Produksi:
Konsep produksi meyakini bahwa konsumen akan lebih menyukai produk-produk
yang tersedia di mana-mana dan dengan harga murah. (The production concept holds
that consumers will prefer products that are widely available and inexpensive.)
Konsep Produk
Konsep produk meyakini bahwa konsumen akan lebih menyukai produk-produk yang
menawarkan kualitas yang baik, kinerja, atau fitur-fitur yang inovatif. (The product
concept holds that consumers will favor those products that offer the most quality,
performance, or innovative features.)
Konsep Penjualan
Konsep penjualan meyakini bahwa bila konsumen dan pelaku bisnis dibiarkan saja,
maka mereka tidak akan membeli dalam jumlah yang memadai produk-produk
perusahaan. Perusahaan haruslah melakukan usaha penjualan dan promosi yang
agresif. (The selling concept holds that consumers and businesses, if left alone, will
ordinarily not buy enough of the organization’s products. The organization must,
therefore, undertake an aggressive selling and promotion effort.)
Konsep Pemasaran
Konsep pemasaran meyakini bahwa kunci untuk mencapai tujuan perusahaan
mencakup usaha perusahaan untuk menjadi lebih efektif daripada para pesaingnya
dalam hal menciptakan, menyampaikan, dan mengkomunikasikan kepada pasar
sasaran yang ditetapkan nilai manfaat bagi konsumen (The marketing concept holds
that the key to achieving its organizational goals consists of the company being more
effective than competitors in creating, delivering, and communicating customer value
to its chosen target markets.)
Konsep Pemasaran Sosial
Konsep pemasaran sosial meyakini bahwa tugas perusahaan adalah menetapkan
kebutuhan, keinginan, dan kepentingan pasar sasaran dan memberikan kepuasan yang
diinginkan secara lebih efektif dan efisien daripada para pesaing dengan cara-cara
yang menjaga atau meningkatkan kesejahteraan konsumen dan masyarakat. (The
social Marketing concept holds that the organization’s task is to determine the needs,
wants, and interests of target markets and to deliver the desired satisfactions more
effectively and efficiently than competitors in a way that preserves or enhances the
consumer’s and the society’s well-being.)

Manajemen Pemasaran

Semua organisasi, baik berorientasi profit maupun not-for-profit, harus bekerja keras
untuk memenuhi kebutuhan konsumen bila ingin tetap dapat beroperasi dan sukses.
Kemampuan organisasi dalam menentukan siapa yang menjadi konsumen dari
produk/jasa yang dihasilkan merupakan salah satu kunci keberhasilan organisasi.
Berikutnya barulah organisasi dapat memfokuskan diri untuk mengidentifikasi
kebutuhan konsumen, cara-cara memenuhi kebutuhan itu dan akhirnya mengusahakan
konsumen untuk tetap mengkonsumsi produk/jasa yang ditawarkan perusahaan. Di
samping itu, organisasi harus memiliki kemampuan pula untuk menyampaikan
informasi kepada konsumen bahwa mereka telah menghasilkan sesuatu yang dapat
memenuhi kebutuhan mereka. Di sinilah fungsi pemasaran (marketing) menonjol. Ia
menjadi (hub) penghubung antara organisasi dan konsumen. Lebih jauh lagi, fungsi
ini dapat diberdayakan untuk mendukung suatu gagasan dan mendidik konsumen
(Boone&Kurzt, 234).
The American Marketing Association mendefinisikan Marketing (management)
sebagai “the process of planning and executing the conception, pricing, promotion,
and distribution of ideas, goods, and services to create exchanges that satisfy
individual and organizational objectives. Proses perencanaan dan pelaksanaan
konsepsi, penetapan harga, promosi, dan pendistribusian gagasan, barang dan jasa
untuk menciptakan pertukaran yang mampu memenuhi tujuan individu dan organisasi.
Pertukaran dalam konteks ini dimaksudkan sebagai sebuah proses dimana dua atau
lebih pihak saling mempertukarkan sesuatu yang memiliki nilai sehingga pada
akhirnya mereka merasa lebih baik setelah melakukan proses ini. Philip Kotler sendiri
mendefiniskan marketing management sebagai “the art and science of choosing
target markets and getting, keeping, and growing customers through creating,
delivering, and communicating superior customer values”. (Seni dan ilmu di dalam
memilih pasar sasaran dan mendapatkan, memelihara dan mengembangkan para
pelanggan melalui proses penciptaan, penyampaian dan pengkomunikasian nilai
pelanggan yang lebih baik.

Keunggulan Sistem Multi Level Marketing

Berikut ini beberapa keunggulan sistem network marketing (MLM) online:
1. Target pasar (market) tanpa batas. Berbeda dengan MLM offline, MLM online tidak
mengenal batas geografis. Jika anda memasarkan produk MLM offline, anda hanya bisa
memasarkan pada lingkup yang terbatas seperti teman dan saudara.
2. Promosi network marketing online jauh lebih efektif. Mempromosikan bisnis secara
online (via internet) sangat mudah. Ini karena target pasar yang dibidik yaitu para netter
adalah sangat pas (tepat) dengan backround mereka.
3. Sistem bisnis mudah diotomatisasikan. Dengan memanfaatkan internet, bisnis anda
dapat diotomatisasikan. Hampir 100% bisnis anda bisa dijalankan oleh mesin
(komputer/internet). Anda dapat mengelola bisnis ini hanya seorang diri (tanpa karyawan).
Sistem autoresponder akan bekerja untuk anda selama 24 jam NON STOP.
4. Modal kecil hasil besar. Dibanding dengan bisnis offline biasa, maka modal dan resiko
network marketing online lebih kecil, namun hasilnya bahkan bisa lebih besar dari
penghasilan utama.
5 Waktu luang lebih banyak. Akses dan kecepatan transaksi real time teknologi online bisa teruji dan terukur. Sehingga waktu luang anda menjadi lebih banyak dengan aktivitas yang sebentar di bisnis online. Berbeda dengan MLM offline biasa, di mana anda perlu melakukan
komunikasi secara langsung (face to face) sehingga membutuhkan pertemuan-pertemuan
bisnis yang menyita waktu dan menguras kantong.
6 Bebas menentukan tempat dan waktu. Anda bisa menjalankan bisnis MLM online anda di
mana saja dan kapan saja.

sumber : www.serulink.net

Senin, 18 Agustus 2008

Pengertian Penilaian Prestasi kerja

Mengembangkan dan memajukan karyawan merupakan fungsi yang paling penting dalam manajemen sumber daya manusia yaitu mengimbangi perkembangan yang terjadi dalam perusahaan. Keberhasilan pengembangannya tersebut dilihat dari hasil pelaksanaan kerja karyawan, untuk itu setiap perusahaaan perlu penilaian prestasi kerja terhadap karyawan-nya dengan melihat hasil dari pekerjaannya.
Penilaian prestasi kerja adalah proses melalui organisasi untuk mengevaluasikan atau menilai prestasi kerja karyawannya . Kegiatan ini dapat memperbaiki keputusan-keputusan dan memberikan umpan balik kepada karyawan tentang pelaksanaan kerja pada karyawan.
Dengan penilaian prestasi kerja tersebut akan dapat diketahui kemungkinan pengembangan sumber daya manusia yang bersangkutan baik melaluui pengikutsertaanya dalam program pelatihan dan pengembangan.
Dengan penilaian prestasi kerja merupakan alat manajemen sumber daya manusia di gunakan untuk mengukur kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oarganisasi pada satu periode tertentu, sekaligus untuk mengetahui tingkat kesesuaiannya dengan kebutuhan sumber daya manusia pada periode yang sama.
Menurut Henry Simamora (2001:415) mengemukakan :
“Penilaian pestasi kerja (performance Appraisal) merupakan proses yang di lakukan organisasi untuk mengevaluasikan pelaksanaan kerja individu karyawan pada organisasi selama periode waktu tertentu”.
Menurut Malayu S.P Hasibuan (2000: 86) mengemukakan :
“Penilaian Prerstasi Kerja adalah kegiatan manajemen untuk mengevaluasikan perilaku atau prestasi kerja karyawan serta menetapkan kebijaksanaan selanjutnya”.
Menurut T. Hani Handoko (2000: 135) mengemukakan :
“Penilain Prestasi Kerja adalah suatu proses dimana organisasi mengevaluasi suatu penilaian prestasi kerja karyawan dengan tujuan dapat memberikan umpan balik kepada para karyawan tentang kerja mereka”.
Dari beberapa defenisi tersebut di atas, penilaian prstasi kerja merupakan kegiatan mengevaluasikan kerja karyawan sehingga dapat diadakan berbagai tindakan yang berhubungan dengan pengembangan untuk masa yang akan dating. Adapun penilaian prestasi kerja dapat memberikan motivasi bagi para karyawan yang selanjutnya oleh perusahaan digunakan sebagai dasar untuk program mutasi jabatan dan kenaiklan gaji.


Blogger Templates by Isnaini Dot Com. Supported by Gold Mining News. Powered by Blogger